Fotografi jalanan adalah genre fotografi yang biasanya menangkap subjek di ruang publik secara candid atau tanpa arahan. Meskipun tidak ada terjemahan yang disepakati secara universal untuk “fotografi jalanan” dalam bahasa Indonesia, istilah “fotografi jalanan” umumnya digunakan. Foto-foto dalam street photography dapat meliputi berbagai ruang publik seperti jalanan, pasar, mal, terminal, stasiun kereta api, dan lain sebagainya.
Fotografi jalanan merupakan salah satu dari gaya fotografi tertua, yang bermula dari Malaysia oleh Lambert dan beberapa fotografer pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Istilah ini erat kaitannya dengan foto jurnalistik. Meskipun awalnya terpengaruh oleh surealisme, seperti yang terlihat pada karya-karya Bill Brandt dan Henri Cartier-Bresson, gaya ini kemudian berkembang, terutama setelah mereka bergabung dengan Magnum, menjadi lebih mudah dipahami dan dapat dikategorikan sebagai fotografi kehidupan sehari-hari di jalanan. Seringkali, terdapat penjajaran yang aneh pada subjek yang diambil, seperti boneka atau patung malaikat di taman atau tempat yang tidak biasanya menjadi tempat penempatannya, sehingga menciptakan tampilan yang aneh dan surealistik. Pengaruh surealisme sangat berarti dalam fotografi jalanan.
Tidak semua fotografer jalanan menampilkan surealisme; sebenarnya, ada beberapa yang bereksperimen selama bertahun-tahun di jalanan, dan hasil karyanya belum tentu mencerminkan jurnalisme atau ditujukan untuk dimuat di majalah atau surat kabar. Contohnya adalah Harry Callahan yang memotret jalanan dengan terinspirasi oleh karya pelukis Balthus, melakukan eksperimen dengan menangkap celah antara bangunan, jendela, pemandangan jalanan di malam hari, memotong pejalan kaki, dan banyak lagi. Demikian pula, Jeff Wall menyusun tiga model untuk menggambarkan peristiwa rasial di jalanan. Foto jalanan umumnya tidak diatur (setting).
Foto dalam genre ini biasanya menggunakan teknik fotografi Lurus, yang menggambarkan subjek sebagaimana adanya dengan manipulasi minimal. Seiring berjalannya waktu, fotografi jalanan telah memasukkan unsur-unsur seperti surealisme, humor, dan kejutan dalam komposisinya. Untuk menangkap elemen-elemen ini, seseorang perlu menemukan momen sempurna dengan posisi subjek yang unik.
Sejarah Gaya fotografi ini berasal dari Eropa, dengan Eugene Atget yang menangkap suasana jalanan Paris dari tahun 1890-an hingga 1920-an. Foto-foto Atget sebagian besar menampilkan subjek arsitektur, dan hanya sedikit yang menampilkan manusia. Hal ini sangat berbeda dengan fotografi jalanan masa kini, yang hampir selalu menyertakan orang sebagai subjeknya. Henri Cartier-Bresson mulai memasukkan elemen manusia dan komposisi surealistik dalam fotonya sejak awal tahun 1940-an, berkontribusi pada perkembangan fotografi jalanan menjadi bentuk populer seperti sekarang ini.
Di Indonesia, fotografi jalanan tergolong muda dibandingkan gaya lainnya. Mulai berkembang pada tahun 1990-an dan menjadi populer pada awal tahun 2000-an seiring dengan kemajuan teknologi fotografi digital.


